Showing posts with label tulisanQu. Show all posts
Showing posts with label tulisanQu. Show all posts

Tuesday, November 2, 2010

Hidup adalah pilihan

dua minggu belakangan cuaca emang ekstrim banget yah.. panas, terik, mendung, hujan rintik, sampai badai. Perubahannya drastis pula dalam waktu sangat singkat..

saya jadi inget dulu waktu masi jadi karyawan. Cuaca kaya' gini emang super nyebelin, setiap sore berharap cemas agar ujan yg udah turun sedari siang segera berhenti. Apalagi buat saya yang tinggal di Depok. Sangat bergantung dengan moda transportasi KERETA. hmm, ujan dikit aja gangguan, mulai dari sinyal, wesel, mogok...

Nah, salah satu yg bikin saya sangat happy menjadi wanita wirausaha adalah terbebas dari stres dijalan. Seakan-akan saya jadi punya waktu lebih, karena saya mengatur sendiri waktu kerja saya.. Saya memasuki zona kebebasan waktu.

Tapi menjadi wanita wirausaha engga senyaman itu juga.. kita mesti pinter2 masang target plus ngatur jam kerja... jangan sampai terlena..

kita ngurusin semua hal sendiri, mulai dari pilah pilih supplier, cari2 distributor/agen/reseller, pricing, promosi, buat flyer, katalog, pricelist sampe website updating.. menyusun skala penggajian, pilah2 karyawan...wuuihhh seruu benner.. saya pun mesti jeli melihat peluang, mengelola keuangan agar karyawan dapat terus digaji, stock berputar, modal balik dan saya pun bisa jalan2....

saya meninggalkan zona nyaman sebagai karyawan..

yups.. hidup adalah pilihan.. menjadi wanita wirausaha memang bukan zona nyaman, tetapi zona kebebasan...

apapun pilihan mu temans.. enjoy it!.. kita wajib dan berhak bahagia atas pilihan kita...

Tuesday, September 21, 2010

belajar menulis

Workshop 2 hari tentunya tidak akan merubah seorang yang gagu mendadak bisa lancar berbicara. Namun beberapa penjelasannya inspiratif untuk menggugah terutama untuk mereka yang memang berminat dan berhubungan dengan bidang tulis-menulis.

Pertanyaan klasik untuk para penulis adalah, ‘Kamu dapat ide darimana sih?’. Jawabannya juga akan klasik, ‘Dimana-mana juga ada kok’. Bisa dari cerita sahabat, rubrik psikologi di majalah, artikel koran, masa lalu, perjalanan ke kantor, dan masih banyak lagi. Yang bisa menjadi modal untuk mencari ide tersebut adalah dengan melepas kacamata kuda untuk melihat suatu kasus sebagai hal yang biasa-biasa saja, dan mulai memandangnya sebagai sesuatu yang menarik. Pertanyaan, ‘What if?’ bisa menjadi katalisator untuk menggali ide dan membuat sesuatu yang sederhana bisa menjadi lebih menarik.

Tidak perlu memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang ajaib seperti Harry Potter atau ‘berat’, yang kadang membuat kita mampet ide dan berakhir dengan tidak jadi menulis. Contoh sederhana adalah sitkom ‘Friends’. Sitkom ini mengusung tema sederhana yang jika diceritakan dengan sudut pandang imajinatif dan dialong smart maka akan menjadi film yang sangat baik dengan jutaan penonton. Hal-hal sederhana namun menggugah bahkan bisa mengajarkan nilai-nilai sosial tanpa harus bersusah payah memberikan dialog panjang dan berat…

Yang penting adalah untuk berpegang teguh kepada ide yang sudah dimiliki, dan tentukan 3 bagian utama yaitu awal, tengah, dan akhir. Dengan demikian sudah ada pegangan untuk pengembangan cerita dan yang jelas sudah paham akan tujuan akhirnya sehingga tulisan yang dibuat akan terus mengacu kesitu.

Berikut beberapa tips Menulis untuk Dibaca:

  1. Mengandung unsur manusia.

Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalam tulisannya. Dengan memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau dengan menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.

''Don't say the old lady screamed -- bring her on and let her scream,'' kata Mark Twain, jurnalis dan novelis pengarang The Adventure of Tom Sawyer.

2. Pengalaman spesifik dan konkret.

Tema yang diusung sebaiknya sesuatu yang benar-benar dikuasai oleh penulis. Engga lucu kan kita menulis hal-hal yang kita sebagai penulisnya sendiri engga ngerti apa itu…

3. Menulis ringkas dan padat.

Kalimat yang bagus terdiri dari 15 – 20 kata agar pembaca tidak lelah dan tetap fokus pada pesan utama.

  1. Menulis dengan jelas.

Sebaiknya kita menghindari akronim dan singkatan, terutama singkatan yang tidak biasa. ABRI adalah contoh akronim yang biasa dan dipahami oleh banyak orang.

1 contoh kliping berita koran menarik tentang singkatan:

POM Amankan Satu Kompi Anggota Yonif

721 Makassau

[Republika - Senin, 25 Juni 2007]

Sebanyak satu kompi anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 721/Makassau Parepare, Sulawesi Selatan, diamankan di Detasemen Polisi Militer (DenPON) Parepare untuk diperiksa terkait kasus pengrusakan Kantor Polsekta Mambuliling, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Sulawesi Barat (Sulbar)pada Sabtu (23/6) sekitar pukul 10.00 Wita.

  1. Menulis untuk semua orang bukan segelintir orang.
Oleh karena itu hindari kata sulit dan sesuatu yang bersifat abstrak. Apabila temanya memang sedikit abstrak adabaiknya dijelaskan lebih dalam dan luas agar lebih dekat dengan pembaca.

love

Love is the fundament of our everyday life.

It is not easy to define what love is all about because love concerns many aspects and surely we can never describe what we exactly mean with love.

For me! Love are built by three feelings, there are:

First, emotional connection. If we’ve love someone its mean there’s connection between us. It gives strength and grows beyond me-to bolster my beloved. I am warmed by his presence, even when he is away. Miles do not separate us because our feeling has been connecting each other. Near or far, its doesn’t matter!

Second, sense of belonging. Its full of confidence. When he’s away, I never wonder if he’s cheating trust and it doesn’t make him even trustworthy. Near or far, I know he’s mine and I can wait!

Third, love is not infatuation. Infatuation is instant desire. It is one set of glands calling to another. Love is friendship that has caught fire. It takes root and grows-one day at a time. A feeling of insecurity marks infatuation. Love is quite understanding and the mature acceptance of imperfection. Infatuation is lacks of confidence!

However, for me love is the greatest mystery in our live. Love is an upper, it makes me look up. It makes me think up. It makes me a better person than I was before.

Thursday, September 2, 2010

Knowledge management

Mengenal Knowledge Management


Salah satu fase penting yang mengawali perkembangan knowledge management adalah munculnya knowledge workers atau pekerja berpengetahuan. Seperti dijelaskan Peter F Drucker, dunia saat ini telah bergeser ke masyarakat yang bekerja berdasarkan pengetahuan (dari muscle ke knowledge workers). Sederhananya, ketika kuli angkut bergeser menjadi operator forklift, maka sudah terjadi pergeseran dari otot kepada pengetahuan menjalankan forklift. Dan perlahan-lahan angkatan kerja bergeser ke arah pekerja berpengetahuan, yang mendorong gerak ke ’jaman pengetahuan’ di tingkat masyarakat. Di banyak negara pekerja berpengetahuan ini menjadi begitu dominan dan memunculkan, apa yang disebut Drucker sebagai masyarakat berpengetahuan atau knowledge society (K-Society) sebagai karakteristik yang dominan.


Kondisi inilah yang kemudian memunculkan knowledge management (KM). Pengetahuan di dalam sebuah organisasi kemudian didefinisikan sebagai kumpulan keahlian, pengalaman dan informasi yang dimiliki oleh individu dan kelompok kerja, selama menjalankan tugasnya. Pengetahuan ini diproduksi dan disimpan di dalam pikiran individu, dan secara implisit di terjemahkan dan didokumentasikan dalam proses, layanan dan sistem yang berlaku di dalam organisasi. Sehingga, sebuah inisiatif KM yang sukses haruslah berhasil mengelola, baik explicit knowledge ataupun tacit knowledge.

Explicit knowledge adalah pengetahuan yang bisa diekspresikan dalam bentuk angka dan kata, sehingga bisa didokumentasikan secara formal dan sistematis dalam bentuk data, spesifikasi, manual, dll. Sederhananya explicit knowledge adalah ‘tahu tentang’ (knowing about), sedang tacit knowledge merujuk kepada pengertian “tahu bagaimana” (know how), yang mencakup insight, intuisi, dan firasat, yang tumbuh karena pengalaman, dan sulit diformalisasikan apalagi dibagikan kepada orang lain. Jika explicit knowledge bisa ditemukan dalam bentuk laporan, data, kebijakan, dan dokumen lainnya, tacit knowledge perlu dikonversikan kedalam bentuk explicit knowledge agar proses sharing bisa terjadi.


Proses transfer dari tacit knowledge menjadi explicit knowledge antara individu dan diantara individu di dalam atau diantara organisasi inilah yang menjadi point penting yang mendasari munculnya KM.

Sederhananya, KM mengandaikan informasi dan pengetahuan yang dapat diakses, dikelola dengan baik. KM juga mengandaikan adanya perilaku kolektif yang saling belajar dan saling berbagi pengetahuan. Tatkala hal ini tercapai, maka organisasi dapat menyerap pengetahuan dan proses pengetahuan dari pekerjanya, menjadi intellectual capital organisasi. Modal intelektual inilah yang dapat mentransformasikan organisasi kedalam kapasitas yang lebih kompetitif terhadap pesaingnya, sekaligus memastikan organisasi tetap produktif sekalipun pergantian staf terjadi terus menerus.

Friday, June 12, 2009

Yuk! membangun jejaring perpustakaan

Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa jejaring perpustakaan itu menjadi perlu dan penting.

Ases Publik Rendah

Pertama, dari sisi kompetensi LSM. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dinilai sebagai salah satu motor penggerak perubahan sosial di Indonesia. Kekuatan LSM terletak pada kemampuannya memproduksi pengetahuan dan keterampilan dalam membedah realitas sosial. Produk pengetahuan LSM telah menjadi sumber pengetahuan baru masyarakat sehingga bisa melawan dominasi pengetahuan yang dibuat negara ataupun pasar.

Salah satu contohnya dapat dilihat dalam pengungkapan kasus pelanggaran HAM pada 13-14 Mei 1998. Pemerintah kerap menyebut tragedi itu sebagai tindakan kriminal semata. Sebaliknya, bukti-bukti yang dikumpulkan dan diteliti NGO menunjukkan bahwa kejadian tersebut sudah merupakan pelanggaran
HAM.

Karena itu, semakin berpendar keyakinan transformasi pengetahuan dari LSM kepada masyarakat merupakan agenda yang perlu didorong percepatannya. Sebab, transformasi pengetahuan itu akan membantu terciptanya tatanan kehidupan masyarakat sipil yang terbuka dan demokratis.

Salah satu kendala percepatan transformasi pengetahuan itu justru terletak pada rendahnya akses masyarakat untuk menyerap pengetahuan yang diproduksi dana atau direproduksi oleh LSM. Hal ini tentu saja agak kontraproduktif dengan salah satu tujuan pokok LSM, yakni membangun supermasi sipil.

Kekurangan Koleksi
Untuk mengatasi masalah akses ini, dibutuhkan solusi kreatif yang mampu menjembatani masyarakat dan LSM Salah satunya adalah memanfaatkan perpusatakaan. Dan pada saat ini perpustakaan Perguruan tinggi dan perpustakaan komunitas menjadi salah satu alternatif solusinya.

Persoalannya, sebuah perpustakaan, seberapapun besarnya ia, tak akan mampu mengumpulkan semua karya para ilmuwan dan penulis dari seantereo dunia. Oleh karena itu, perpustakaan atau pusat-pusat informasi harus menjalin kerjasama dalam bentuk jaringan dengan perpustakaan atau pusat-pusat informasi lainnya.

Pesatnya perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology/ICT) telah memungkinkan perpusatakaan membangun jejaring secara cepat, mudah bahkan murah. Sebab, ?jaringan? memungkinkan penghematan fasilitas, biaya, sumberdaya dan waktu.

Itulah alasan keduanya: perpustakaan kampus terkadang tak memiliki kemampuan membangun koleksinya secara mandiri. Ini diperkuat oleh kisah berikut ini.

Seorang dosen ilmu pemerintahan dari sebuah universitas negeri di Lampung bercerita mengenai susahnya mendapatkan bahan ajar untuk salah satu mata kuliahnya, yaitu hukum humaniter.

Saat ia menanyakan kepada mahasiswanya tentang kasus pelanggaran HAM di Talangsari, tidak seorangpun dapat menjawab. Hingga akhirnya ia memberikan tugas makalah yang disambut dengan protes oleh seluruh mahasiswanya. "Tidak ada buku sumber," begitu kilah para mahasiswanya.Ini menjadi ironi karena Kasus Talangsari terjadi di Lampung. Sebuah peristiwa yang amat dekat dengan mereka.

Cerita lain datang dari sebuah Universitas Negeri di Serang, Banten, Jawa Barat. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di universitas tersebut merupakan fakultas termuda. Perpustakaannya berada di ruang sangat sempit dengan jumlah koleksi yang terbatas. Buku-buku yang tersedia merupakan buku lama yang sudah tidak dapat dijadikan acuan bagi ilmu sosial. Para dosen dan pustakawan mengaku kewalahan melayani hasrat mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Kesulitan untuk memperoleh pengetahuan dan informasi baru tidak hanya terjadi di Lampung dan Banten, beberapa pustakawan dan dosen di beberapa Universitas lain juga mengeluhkan hal yang sama. Kerap kali dosen terpaksa menggunakan buku referensi ?usang?.

NGO sebagai salah satu ?produsen? ilmu pengetahuan sosial, melalui berbagai riset dan kegiatannya, seharusnya bisa ambil bagian dalam mengatasi masalah itu. Selama ini, karya pengetahuan NGO dalam bentuk buku, makalah ilmiah, dan lainnya hanya berputar di 'kalangan sendiri'. Di produksi oleh NGO, didistribusikan ke NGO dan dikonsumsi sendiri. Sungguh sebuah kemubaziran, sepertinya.

Karena itu, perpustakaan NGO dan Universitas harus berjejaring, menjadi medium terjadinya perlintasan pengetahuan.

Implementasi


Menyadari itu, Yayasan Tifa telah memulainya dengan membangun jejaring dengan perpustakaan kampus dan komunitas di 4 propinsi, Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Melalui jejaring ini, Tifa akan mendiseminasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para mitranya di berbagai daerah.

Secara teknis, perpustakaan kampus diharapkan menyediakan sebuah sudut dan sumberdaya untuk melakukan pemeliharaan terhadap koleksi dari NGO. Sudut ini, nantinya akan dipenuhi oleh pengetahuan yang dihasilkan oleh NGO dari berbagai isu-isu sosial, diantaranya HAM dan Demokrasi.

Ketika pengetahuan dan informasi telah diterima oleh perpustakaan kampus, tahap selanjutnya adalah menarik masyarakat luas untuk menyerap pengetahuan dan informasi tersebut. Beberapa cara yang dilakukan oleh beberapa toko buku ternama dapat ditiru. Misal, bedah buku dengan mengundang penulisnya. Debat atas sebuah isu sosial yang coba diangkat dari sebuah makalah ilmiah dan lain-lain.

Di masa yang akan datang, Tifa mengharapkan jejaring itu terjadi langsung antara perpustakaan NGO dengan Kampus dan juga antar perpustkaan NGO dan antar perpustakaan kampus.